BAB I
Pendahuluan
Belakangan ini, pembahasan tentang jurnalisme investigasi sering dianggap sebagai sesuatu pekerjaan seorang jurnalis yang menulusuri informasi didalam ruang privat seseorang, akan tetapi arti dari jurnalisme investigasi itu sendiri lebih kepada penelusuran informasi secara mendalam dan tidak terlalu terkait dengan ruang privat seseorang. Sebenarnya hal ini menjadi sebuah permasalahan, kini akibat adanya assumsi seperti itu maka timbul adanya penyimpangan dari sebuah fungsi jurnalisme investigasi itu sendiri. Jurnalisme investigasi sering sekali di praktekan sebagai aktivitas pencarian berita seorang jurnalis terhadap permasalahan-permaslahan pribadi sesorang yang sama sekali tidak relevan apabila dikaitkan dengan kebutuhan publik itu sendiri.
Karena banyaknya beberapa kesalahan arti dan pengertian daripada jurnalisme investigasi tersebut maka dalam penulisan makalah ini ada beberapa penjelasan yang terkait dengan jurnalisme investigasi. Ada beberapa elemen penting dalam jurnalisme investigasi, juga tujuan dari jurnalisme investigasi itu sendiri, dan pembahasan lainnya dalam wacana jurnalisme investiga. Semoga dapat menjadi sebuah informasi yang baru bagi para pembaca. Terima kasih.
Landasan Teori
Ketidaksesuaian diatas mengenai fungsi jurnalisme investigasi akan diperjelas dengan beberapa elemen yang dibutuhkan dalam melakukan peliputan investigasi, yaitu :
• Mengungkap kejahatan yang merugikan kepentingan publik atau tindakan yang merugikan orang lain.
• Skala kasus yang diangkat adalah peristiwa yang terjadi secara luas dan sistematis. (saling berkaitan dan ada benang merah dari urutan peristiwa tersebut)
• Dapat menjawab semua pertanyaan yang muncul di ruang publik dan bisa menguak segala persoalan dengan gamblang.
• Memberitakan aktor-aktor yang terlibat secara lugas dan didukung dengan bukti-bukti yang kuat.
• Publik dapat memahami masalah yang diberitakan tersebut secara kompleks berdasarkan laporan investigasi tersebut, membuat keputusan dan terjadi perubahan dalam lingkungan sosial.
Kelima hal yang di paparkan diatas bersangkutan dengan elemen topik (menyangkut kejahatan publik yang sistematis), elemen metodologi dan tekhnik (pembuktian dan pengaitan benang merah), elemen penggarapan materi liputan (komprehensif dan terstruktur), ada elemen manfaat bagi publik, dan menggerakan perubahan sosial (psikomotorik).
Maka, Jurnalisme investigasi lebih tepatnya merupakan sebuah teori yakni berupa metode peliputan jurnalistik yang mengangkat permasalahan ke muka publik secara lebih spesifik. Jurnalisme investigasi merupakan penyamapaian berita oleh media yang di muat secara mendalam, dengan menguak segala sisi peristiwa tanpa menyisakan pertanyaan bagi publik atau lebih tepatnya metode jurnalistik yang mempunyai tinjauan analisis tajam. Karena tanpa adanya aspek-aspek di atas peliputan ini hanyalah dianggap kurang lebih sama seperti metode jurnalisme biasa.
Pokok permasalahan
Memberikan penjelasan yang sebenarnya mengenai jurnalisme investagsi. Karena belakangan jurnalisme investigasi cenderung digunakan secara salah kaprah. Peliputan investigasi di lakukan karena adanya ketidakadilan yang terjadi terhadap publik namun, hal ini di salah gunakan dengan jurnalis investigasi yang terlalu jauh masuk ke dalam ruang privat seseorang. Sehingga substansi dari peliputan investigasi tidak disampaikan. Maka disini penulis mencoba menjelaskan mengenai jurnalisme investigasi lebih dalam. Segala hal yang perlu di perhatikan dalam peliputan jurnalisme investigasi.
BAB II
Pengertian Jurnalisme investigatif/reportase investigasi
Kata reportase berasal dari bahasa latin yaitu reportare, yang berarti membawa sesuatu dari tempat lain. Maka apabila dikaitkan dengan jurnalis berarti wartawan yang membawa atau mendapatkan berita tentang sebuah peristiwa dari suatu tempat. Investigasi itu sendiri berasal dari bahasa Inggris yaitu investigativ yang juga berasal dari bahasa latin yaitu vestigum yang artinya jejak kaki. Jadi pengertian jurnalisme investigasi adalah suatu pencarian berita dan informasi oleh seorang wartawan atau jurnalis berdasarkan sebuah pencarian, penemuan, penelusuran fakta-fakta secara spesifik atas kesalahan atau pelanggaran-pelanggaran yang merugikan kepentingan publik .
Lantas apa relevansinya dengan masyarakat dan seperti apa seharusnya jurnalisme investigasi tersebut. Jurnalisme investigasi mulai menjadi suatu hal yang dianggap penting di Indonesia yaitu pada tahun 2000-an, namun hal ini banyak digunakan secara salah kaprah. Jurnalisme investigasi di salah artikan menjadi sebuah istilah yang dibenarkan sebagai suatu metode jurnalistik yang menelusuri informasi ke dalam ruang-ruang privat, padahal hal ini sangat tidak perlu apabila tidak terjadi pelanggaran ataupun kejahatan yang merugikan ruang publik.
Jurnalisme investigasi sering di nilai hanya sebagai salah satu metode, pada realitanya memang betul seorang jurnalis harus mencari dan menulusuri sebuah fakta di lapangan untuk pemberitaan dan informasi kepada publik. Namun tidak semua pemberitaan memerlukan proses investigasi yang memerlukan waktu lama dalam proses pengerjaannya. Misalnya berita tentang seremonial para pejabat, karena berita seperti ini dapat dengan mudah ditampilkan melalui sebuah berita langsung (straight news).
Berbeda dengan pemberitaan mengenai kasus korupsi, perdagangan narkoba, atau mafia hukum dan makelar kasus yang merugikan banyak orang, peristiwa semacam ini memerlukan pelipuatan secara khusus dan mendalam yang dikenal sebagai metode investigasi.
Seorang jurnalis investigasi akan dihadapkan kepada pilihan etika, terutama pada saat menemukan pemberitaan yang merugikan kepentingan publik. Pilihannya adalah antara memberitakannya atau tidak. Jika seorang jurnalis itu memilih untuk tidak memberitakan hal tersebut maka dia selamat dari resiko dan ancaman yang dilakukan oleh para pelaku kejahatan publik.
Namun sebaliknya apabila jurnalis tersebut harus memberitkannya maka dia harus siap dengan segala resikonya dan tidak hanya sebuah ancaman yang akan dia hadapi, tetapi dia juga harus bertanggung jawab atas peristiwa yang di beritakan apakah sudah akurat dan disampaikan sesuai dengan fakta atau tidak.
Seorang jurnalis investigasi tidak hanya membutuhkan kemampuan menggali fakta di lapangan dan mengaktualisasikannya ke dalam tulisan yang baik, tetapi juga harus memiliki keteguhan hati agar semua prosesnya dapat terlewati secara tuntas. Hingga liputan segala fakta-fakta yang ada dapat di ungkap secara lengkap dan nilai kebenaran dari sebuah berita tersebut betul-betul tercapai.
BAB III
Tujuan Jurnalisme Investigasi
Tujuan dari junalisme investigasi adalah untuk mengungkapkan sebuah kebenaran fakta dan sebuah kebohongan yang di tutup-tutupi atau pelanggaran yang terjadi kepada masyarakat. Hal ini bertujuan agar masyarakat waspada atas segalala kebohongan atau kejahatan yang dilakukan oleh beberapa pihak tertentu, berdasarkan laporan bukti-bukti kebenaran yang telah diberitakan oleh media. Bukti-bukti tersebut diperoleh melalui penemuan dan pencarian informasi dari berbagai tipe informasi, dokumen-dokumen signifikan yang ada ataupun melalui observasi lapangan yang dilakukan oleh seorang jurnalis.
Dari penjelasan tujuan di atas maka dapat di assumsikan bahwa tujuan dari jurnalisme investigasi adalah adanya tujuan moral yang ingin ditegaskan. Semua yang dilakukan oleh seorang jurnalis investigasi ialah berdasarkan motivasi moral untuk mengoreksi keadilan. Menunjukkan dan mempengaruhi kepada masyarakat bahwa ada suatu ketidakberesan dan kesalahan yang telah terjadi. Moral merupakan motivasi yang amat penting dalam peliputan investigasi, dari kegiatan seorang jurnalis dalam mencari bukti-bukti dan menulusuri fakta itu semua dilakukan atas dorongan moral. Moral yang terbangun untuk memberitahukan sesuatu yang sudah merugikan banyak pihak.
Seorang jurnalis investigasi harus mengumpulkan materi fakta yang faktual kedalam kisah yang utuh dan dari mater-materi itu dijelaskan sebuah keterkaitan, sebab-akibat, dan konskuensinya. Pada akhirnya hal ini semata-mata dilakukan dari sebuah dorongan moral atas kepentingan masyarakat yang terlanggar, mengapa jurnalis investigasi harus melakukan segala macam penelusuran, rangkaian materi, dan peliputan yang dapat membuktikan suatu fakta semacam pelanggaran? itu dikarenakan adanya dorongan moral jurnalis untuk mengoreksi sebuah pelanggaran keadilan yang terjadi di masyarakat.
Pada akhirnya aktivitas jurnalis investigasi justru mengajak masyarakat memerangi pelanggaran-pelanggaran yang terjadi, yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Kerja jurnalisme investigasi memasuki berbagai gejolak dan konflik yang tengah terjadi di masyarakat.
Hal ini terjadi karena di dalam kegiatan seorang jurnalis investigasi diharapkan bisa menyampaikan informasi dengan tepat waktu, cermat, dan efektif sehingga mampu memberikan gambaran sebuah informasi yang akurat ke dalam benak para masyarakat.
Di sisi lain metode semacam ini dilakukan karena banyaknya kemungkinan terjadinya sebuah kesalahan pada seorang jurnalis investigasi misalnya mendatangi sumber-sumber yang keliru atau menuliskan beritayang kurang cermat sehingga menyebabkan biasnya nilai berita yang kemudian berdampak kepada salahnya pemahaman yang diambil oleh masyarakat.
Dengan demikian pemahaman yang dicerna oleh publik cenderung berbeda-beda dengan individu satu dan lainnya.
BAB IV
Proses kerja Jurnalisme Investigasi
A.Penelusuran Dokumentatif
Dalam pekerjaannya seorang jurnalis investigasi melakukan berbagai proses untuk mendapatkan informasi yang akurat, yang pertama penelusuran dokumentatif. Hal ini mencakup pekerjaan mencari bahan dokumentasi dari publikasi koran, majalah, tabloid, radio, televisi, disertasi, tesisi, buku refrensi, database komputer, dan internet. Serta data-data penting kelembagaan lainnya, misalnya data kelahiran dan kematian, dsb. Maka para pekerja jurnalisme investigasi harus memiliki nalar yang kuat untuk mengkaitkan semua data yang didapatkannya secara sistematis dan juga akurat.
Penelusuran dokumentatif seperti ini merupakan sarana untuk mengkroscek sebuah kebenaran dari apa yang di katakan oleh seorang nara sumber atas sebuah peristiwa. Bebagai dokumen yang telah didapatkan tadi bisa dijadikan sebuah pijakan untuk membangun sebuah kisah mengenai kasus yang mereka cari.
Namun yang sering terjadi pekerjaan seorang jurnalis investigasi bisa terlihat hasilnya apabila telah menggunakan dan melewati prosedur dasar jurnalistik yaitu berbicara dengan orang banyak, memberikan atau mengajukan pertanyaan dan mencari jawaban. Metode seperti ini membutuhkan keahlian dalam penyusunan data yang sistematis, sistematika perencanaan untuk mengkorelasikan seluruh informasi yanga ada. Kemudian dibutuhkan juga kemampuan meruntut kronologis tentang peristiwa tersebut berdasarkan waktu yang tepat. Sehingga sangat dibutuhkan kemampuan sistemik dalam menganalisa sebuah informasi.
B.Penelusuran Nara Sumber
Metode seperti ini dilakukan unutk membantu proses pembuktian mengenai informasi yang ingin dilaporkan, dari pihak-pihak yang dianggap kredibel. Bukan hanya mencatat pendapat para ahli tetapi wartawan investigastif harus mampu menembus narasumber yang benar-benar terkait langsung dengan masalah yang sedang diselidiki .
Wartawan investigatif terkadang juga harus melakukan penyamaran seprti layaknya seorang intelejen, namun sebisa mungkin hal ini di minimalisir mengingat seorang jurnalis mempunyai prinisip harus menjunjung tinggi kejujuran. Selain metode penelusuran seperti diatas, Menurut Paul N. Williams seorang teoritisi di Ohio State University dan seorang wartawan investigasi dari Omaha, di antaranya ada lima langkah penting proses kerja yang harus dilakukan oleh jurnalis investigasi yaitu :
1. Conseption
Unsur ini merupakan proses mencari ide dan gagasan. Ide dapat ditemukan melalui menyimak potongan berita, membaca, dan observasi langsung.
2. Fasibility Study
Unsur ini ialah mengukur dan memperkirakan keperluan serta perlengkapan yang dibutuhkan untuk melakukan proses investigasi. Hal ini dilakukan karena proses peliputan investigasi berbeda dengan peliputan seorang jurnalis biasa, yang meliput permasalahan yang muncul dari luar permukaan saja. Maka dari itu peliputan yang dilakukan oleh seorang jurnalis investigasi memerlukan persiapan yang lebih daripada seorang jurnalis biasa. Dibutuhkan upaya kematangan dalam menganalisis faktor-faktor apa saja yang akan dihadapi ketika peliputan investigasi berlangsung nanti.
3. Basebuilding
Langkah yang ke tiga ini ialah upaya dalam mencari dasar pijakan untuk menganalisis sebuah kasus. Atau sebuah landasan teori terkait dengan kasus yang akan di investigasi. Sebab, ini berfungsi untuk mengetahui bagaimana peristiwa tersebut bisa terjadi, juga mempelajari lebih jauh mengenai kondisi sosio kultural-historis yang ada. Maka dengan adanya landasan teori dan analisa yang tajam terhadap kondisi sosio kultural-historis yang ada, jurnalis dapat menyampaikan pemberitaan yang akurat.
4. Planning
Melihat banyaknya resiko dan tantangan serta tuntutan berita yang rapih dan akurat, maka peliputan investigatif membutuhkan perencanaan. Perencanaan ini yakni terkait dengan penyusunan dan pengumpulan informasi serta pembagian tugas. Proses penyusunan informasi dilakukan setelah mengumpulkan isu-isu yang hangat di tengah publik, sedangkan pembagian tugas yakni mengenai proses peliputa, wawancara, penulisan, fotografi, dan sebagainya.
5. Final Evaluation
Tahap ini merupakan tahap terakhir yakni mengukur dan mengkoreksi hasil dari peliputan investigasi yang dilakukan. Mengukur kemungkinan hasil buruk atau negatif, seperti apakah peliputan ini dilakukan, berdasarkan intervensi politik atau tidak. Atau justru tidak ada kaitannya sama sekali dengan kaidah jurnalisme.
BAB V
Perbedaan Jurnalisme Investigasi dengan Jurnalisme biasa
Perbedaan mengenai jurnalisme investigasi dan jurnalisme biasa terletak pada substansi pemberitaan yang akan dimuat di media. Jika pemberitaan yang tidak dilakukan dengan investigasi biasanya hanya memuat informasi secara singkat, tanpa menilisik 5W 1H yakni who, what, where, when, why, dan how dan tidak membutuhkan proses yang lama dalam peliputannya. Sedangkan jurnalisme investigasi pasti menguraikan 5W 1H dan membutuhkan proses yang lama karena begitu banyak urutan proses yang harus di lakukan satu persatu. Kadar kerumitan dan kepelikan menelisik kasus juga lebih berat dirasakan oleh seorang jurnalisme investigasi.
Jurnalis investigasi juga mempunyai inisiatif yang lebih tajam di banding seorang jurnalis biasa. Jurnalis investigasi lebih cenderung selektif dan krirtis dalam menerima setiap isu dan bocoran informasi, tidak semata-mata membenarkan dan membuat suatu pemberitaan dengan data yang kurang terpercaya. Jika jurnalis biasa memberitakan apa yang di umumkan sedangkan jurnalis investigasi mengungkapkan mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Jurnalis biasa dapat dengan mudah mendapatkan informasi dengan mengahdiri konferensi pers, seminar-seminar, rapat-rapat penting anggota dewan, pertemuan tokoh-tokoh politik, dan seteleh itu mencatatnya. Maka dari itu jurnalis biasa tidak lebih dari sekedar seorang pencatat saja. Sedangkan jurnalis investigasi harus memiliki kepakaan dan agresivitas yang tinggi terkait dengan data yang harus mereka dapatkan dan yang muncul di permukaan, bukan semata-mata menerima informasi bias yang beradar di publik.
Jurnalis invetigasi selalu memiliki rasa curiga terhadap adanya konspirasi. Misalnya skandal-skandal mafia peradilan, atau kasus-kasus yang melibatkan pejabat-pejabat negara. Mereka tidak bisa begitu saja terbuai untuk menuruti pandangan yang di kemukakan tokoh-tokoh publik ataupun narasumber dan para ahli. Jurnalis investigasi melakukan riset mendalam, teliti dan tekun mengkonstruksi kesalahan yang terjadi di ruang publik.
BAB VI
Penutup dan kesimpulan
Jadi, jurnalisme invsetigasi adalah peliputan yang dilakukan mengenai kasus-kasus yang terjadi secara luas di ruang publik. Melalui peliputan jurnalisme investigasi publik dapat mengetahui dan memahami kesalahan dan pelanggaran yang terjadi.
Perlu di garis bawahi bahwa peliputan investigasi berbeda dengan peliputan jurnalisme biasa. Jurnalisme investigasi membutuhkan proses yang lebih lama dalam melakukan peliputan. Dibutuhkan kegigihan, integritas, dan ketekunan serta analisis yang kuat dalam peliputan jurnalisme investigasi. Karena begitu banyaknya faktor-faktor yang harus terpecahkan untuk menjadikan liputan investigasi tersebut menjadi liputan investigasi yang faktual dan akurat. Tanpa sedikit pun mengurangi pemberitaan yang sebenarnya.
Demikian lah pemaparan mengenai jurnalisme investigasi, semoga bermanfaat bagi pembaca dan penulis khususnya.
Terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA
Lihat http://ahmadtaufik-ahmadtaufik.blogspot.com/2007/05/jurnalisme-investigasi.html
Lihat http://glencp.multiply.com/journal/item/84/Journalism_Jurnalisme_Investigasi
Lihat http://mswibowo.blogspot.com/2010/05/pengantar-jurnalisme-investigasi.html
Lihat http://persma.com/baca/2009/11/10/apa-itu-investigasi-2.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar