Dulu, kamu adalah satu dari sekian banyak mimpi dalam hidup ku..
Dulu, kamu adalah semilir angin yang datang pergi, terasa namun tak pernah nampak..
Dulu, kamu adalah pikiran dan perasan ku yang tak pernah sampai ku realisasikan..
Dulu, kamu adalah objek dari aktivitas keingintahuan ku..
Dulu, kamu adalah sebaris doa yang selalu ku panjatkan penuh pengharapan..
Hingga pada suatu hari aku tersadar, bahwa di dunia selalu ada dua insan yang selalu saling mendoakan.. Aku mendoakanmu dan aku berpikir mungkin kah kamu mendoakan ku? Entah, tapi aku juga berdoa agar aku yang juga kamu doakan dalam doamu..
Akhirnya, Tuhan pun menjawab bahwa kamu memang jawaban atas doaku.
Sekarang, kamu adalah bukan lagi yang ku sebut mimpi, kamu adalah realita yang dititipkan Tuhan untuk aku pertanggungjawabkan..
Sekarang, kamu adalah bukan lagi yang ku sebut angin semilir.. kamu adalah udara yang ku hirup menjadi nafas setiap hari..
Sekarang, kamu adalah bukan lagi pikiran atau pun perasaan.. kamu adalah kamu yang aku pikirkan dan aku rasakan setiap hari..
Sekarang, kamu adalah bukan lagi objek keingintahuanku.. kamu adalah kamu yang harus menjadi pengetahuanku setiap hari..
Sekarang, kamu adalah bukan lagi sebaris doa penuh pengaharapan.. kamu adalah kamu yang aku harapkan menjadi tujuan ku..
KITA adalah tujuan ku untuk mu.
Aku yang semakin tersadar bahwa aku butuh dunia untuk memahami mu, tapi untuk memahami dan merasakan bagaimana dunia yang indah ternyata cuma kamu yang aku butuhkan.
Kamu adalah dunia yang aku pelajari..
Kamu adalah dunia yang selalu membumi di hati..
Kamu adalah interpretasi dunia dalam bentuk yang amat sederhana..
Sederhana persis seperti ketika kita saling menatap, kemudian menghela napas panjang dan tertawa lepas setelahnya. Aku menyebutnya sederhana, karena kita tidak pernah mempersoalkan apa yang kita tertawakan..
Kita hanya tahu, bahwa kita merasa bahagia setelahnya..
Sederhana itu utuh, tak lebih karena tak ingin berlebihan dan tak pernah kurang karena selalu merasa cukup.
Iya, kamu adalah syukur yang ku cukupkan. Cukup kamu nikmat terindah yang aku miliki dan itu adalah KITA.
Dulu, kamu adalah semilir angin yang datang pergi, terasa namun tak pernah nampak..
Dulu, kamu adalah pikiran dan perasan ku yang tak pernah sampai ku realisasikan..
Dulu, kamu adalah objek dari aktivitas keingintahuan ku..
Dulu, kamu adalah sebaris doa yang selalu ku panjatkan penuh pengharapan..
Hingga pada suatu hari aku tersadar, bahwa di dunia selalu ada dua insan yang selalu saling mendoakan.. Aku mendoakanmu dan aku berpikir mungkin kah kamu mendoakan ku? Entah, tapi aku juga berdoa agar aku yang juga kamu doakan dalam doamu..
Akhirnya, Tuhan pun menjawab bahwa kamu memang jawaban atas doaku.
Sekarang, kamu adalah bukan lagi yang ku sebut mimpi, kamu adalah realita yang dititipkan Tuhan untuk aku pertanggungjawabkan..
Sekarang, kamu adalah bukan lagi yang ku sebut angin semilir.. kamu adalah udara yang ku hirup menjadi nafas setiap hari..
Sekarang, kamu adalah bukan lagi pikiran atau pun perasaan.. kamu adalah kamu yang aku pikirkan dan aku rasakan setiap hari..
Sekarang, kamu adalah bukan lagi objek keingintahuanku.. kamu adalah kamu yang harus menjadi pengetahuanku setiap hari..
Sekarang, kamu adalah bukan lagi sebaris doa penuh pengaharapan.. kamu adalah kamu yang aku harapkan menjadi tujuan ku..
KITA adalah tujuan ku untuk mu.
Aku yang semakin tersadar bahwa aku butuh dunia untuk memahami mu, tapi untuk memahami dan merasakan bagaimana dunia yang indah ternyata cuma kamu yang aku butuhkan.
Kamu adalah dunia yang aku pelajari..
Kamu adalah dunia yang selalu membumi di hati..
Kamu adalah interpretasi dunia dalam bentuk yang amat sederhana..
Sederhana persis seperti ketika kita saling menatap, kemudian menghela napas panjang dan tertawa lepas setelahnya. Aku menyebutnya sederhana, karena kita tidak pernah mempersoalkan apa yang kita tertawakan..
Kita hanya tahu, bahwa kita merasa bahagia setelahnya..
Sederhana itu utuh, tak lebih karena tak ingin berlebihan dan tak pernah kurang karena selalu merasa cukup.
Iya, kamu adalah syukur yang ku cukupkan. Cukup kamu nikmat terindah yang aku miliki dan itu adalah KITA.