Selasa, 19 Februari 2013

Katanya, ini "Pret"

Aku terlalu egois kalau menyimpan keindahan sendiri. Rasanya, dunia juga harus tahu kalau aku punya salah satu bagian keindahannya. Wajar saja orang bilang pret kepadaku. Tapi biarlah, mungkin mereka bingung harus komentar apa sehingga mereka ber-pret-pret ria. Habis mau bagaimana lagi?? Nyatanya mereka iri, mereka tidak punya keindahan seperti apa yang aku punya. Iya, itu kamu, memangnya siapa lagi?

Sebenarnya mulai sejak dulu aku merasa seperti ini. Tapi dulu aku belum berhak pamer, kita belum seperti sekarang. Dulu kita masih aku kamu.
Kalau sekarang, aku teriak bersorak menyebut namamu siang malam juga masa bodo, kamu punyaku, aku punyamu, punya kita. Dunia pasti tertawa kemudian menggumam "Oh ternyata ini sebagian keindahanku yang dia maksud. Pantas saja, sekarang awan jarang mendung, matahari jarang terik, semua seimbang. Hemmm dia seperti Ibu Peri. Hihihihi" - Ucap dunia sambil tertawa kecil.


Kadang ketika kita hidup, ada waktunya kita merasakan tidak ingin berhenti dengan ini ataupun itu. Berhenti bukan karena ingin pergi, tetapi berhenti karena masa itu terlalu nyaman sehingga enggan untuk berlalu.
Misalnya ketika bibirku merasakan bagaimana nyamannya ciummu. Seketika lupa, ada euforia ketika ciumanmu mendarat. Tapi sebenarnya jauh sebelum itu, rindumu lebih dulu menciumku bertubi-tubi di setiap inci ruang hati.
Hah, ini lah segala rasa. kadang merasa aneh karena tak tahu darimana pangkalnya selain bilang ini anugrah Tuhan. Bahkan sepele, aku  bisa lihat kamu bingung dan susah melisankan rasa hanya denga melihat pipimu yang berubah warna menjadi merah merona. Rasanya kamu ingin aku peluk, supaya merah semua, merah penuh cinta.
Kalau saja hati punya tangan dan bisa menulis, mungkin teknologi rontgen di rumah sakit hanya akan menemukan namamu ketika memeriksa kondisi hati. Lagi-lagi pret. Sudahlah, ternyata memang pret.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar